Tak terpikirkan sekalipun dibenakku untuk menjalani hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR). Namun
pepatah yang mengatakan “Men poroses, God disposes” ternyata benar adanya. Setelah dua tahun
pernikahan, saat hendak melahirkan anak pertama kami suami memutuskan aku harus
melahirkan anak pertama kami dirumah orang tuanya. Resah, pasti. Gelisah ,
hampir setiap hari. Namun melihat posisi suami tak sanggup rasanya berkeluh
kesah dan membuatnya gusar. Bismillah, diawalilah cerita long distance
relationship kami.
Hidup
terpisah dari suami tercinta sungguh berat rasanya. Apalagi kami masih boleh
dikatakan pengantin baru ( baru dua tahun hehe). Alhamdulillah mertua sangat
baik sekali. Bantuan mereka sangat berarti terutama dalam mengasuh anak pertama
kali. Secara saya ini ibu baru yang tidak punya pengalaman sedikitpun. Dalam
mengasuh anak benar-benar learning by
doing. Saat anak demam dan harus begadang , bapak dan ibu mertua siap
menemani. Tak jarang ibu mertua menyuruhku tidur terlebih dahulu kemudian
tengah malam membangunkan ku untuk menjaga si kecil.
Adaptasi
lingkungan baru bukan hal yang sulit secara aku ini dulu anggota pramuka jadi
tinggal dimana saja ayo aja ( gak nyambung ya..:)). Masalah yang paling sering
datang adalah kerinduan pada suami yang kadang tak terkendali. Meskipun era
teknologi sudah berkembang sangat pesat, namun dikantong kami tak memungkinkan
untuk telepon terlalu lama. Hanya berbagi kabar lewat sms dan telepon di
penghujung pagi untuk menyiasati pulsa supaya tidak terlalu mahal. Apakah
nyaman? Tentu tidak sama sekali. Aku tidak bisa lepas berbicara dengan suami. Meski
lewat telepon aku harus berbisik-bisik supaya tidak mengganggu anggota keluarga
lain yang masih tidur terlelap. Segala ganjalan dihati juga tidak bisa aku
sampaikan semuanya demi menjaga hati dan perasaan suami di sana.
Tahun kedua
Setelah
si kecil berusia enam bulan, kebosanan melanda. Tak jarang dengan alasan belanja
kebutuhan si kecil, aku mencuri waktu mampir ke warnet (saat itu hape tidak
secanggih sekarang. Belum kenal facebook apalagi instagram) hanya untuk
browsing buka friendster (hayo yang gak tahu friendster angkat taangan) atau
sekedar chatting dengan teman via yahoo
messenger.
Mertua
yang ternyata menyadari menantunya ini sedang galau tingkat dewa, menyarankan
aku melamar pekerjaan ke beberapa sekolaah sebagai pengajar sesuai dengan
jurusan yang aku ambil saat kuliah. Pucuk dicinta ulampun tiba. Tak lama aku
diterima disebuah sekolah negeri sebagai guru tidak tetap alias GTT.
Tingkat
kegalauan berhasil diturunkan sekian persen. Tetapi biang galaunya masih aja
nempel. Apakah itu? Apalagi kalau bukan karena sang pujaan hati. Kian hari kangen
yang tersalurkan mengakibatkan baper tiada tara. Suami pulang sebulan sekali
dan hanya beberapa jam saja bertatap muka karena jarak rumah dan tempat kerja
yang beribu-ribu kilo jauhnya tidak memungkin kami bertemu berlama-lama.
Bahagia saat berjumpa sudah tentu, namun tidak bisa lepas menumpahkan rasa
rindu karena sebagai wanita aku berpikir harus berbagi waktu dengan
keluarganya. Jangan sampai membuat mertua cemburu dan dianggap merebut anak
kesayangannya. Karena itulah kami hanya mencuri-curi pandang seperti orang
pacaran. Waktu dihabiskannya mengobrol dengan mertua dan bermain dengan
anakknya. Tapi aku gak apa-apa ( hahaha)
Tahun ketiga
Prosentase
baper meningkat drastis. Konflik dirumah bertambah serasa mengalami depresi
parah. Komunikasi dengan mertua sering kali tidak lancar. Entah karena baper
atau apa setiap mertua diam seribu bahasa, berton-ton batu serasa menimpa dada
dan kepala. Ribuan tanya “ salahku apa?” berseliweran tanpa jawab. Kata- kata
halus yaang terlontar sering kali berasa tajam menghujam dada. Pengen ngadu ke
suami, takut dikira adu domba. Diam saja aku tak bisa. Dada ini rasanya sesak
mau pecah saja. Kalau sudah demikian aku menghujani suami dengan sms penuh drama
namun tak bisa aku lepas mengungkap segala gejolak didalam dada. Tetap saja aku
harus berhati-hati supaya tidak membuatnya ikut terbawa suasana.
Tahun ke empat
Derita
tak kunjung nampak ujungnya (lebay...). Marah dan benci pada suami bertumbuh
dan semakin subur tanpa ia ketahui. Dalam hati bertanya-tanya “tidakkah kau
rasakan penderitaan istrimu ini?”. Kata-kata yang menenangkan sangat langka
keluar dari bibirnya. Tak jarang keluhan justru meluncur darinya menambah perih
luka yang telah lebar menganga.
Perasaan
sedih, marah, merasa tak berguna, bahkan ingin mati saja semakin dalam tertanam
didada. Setiap tindakan rasanya tidak pernah benar dimata orang sekitar.
Label-label sebagai wanitaa tak berguna , bukan menantu idaman, manusia tak
berguna, lemah, bodoh, persona non grata
dan label-label buruk lainnya rasanya tersemat dimana-mana disekujur tubuhku
ini. Setiap tatapan rasanyaa tajam menghujam. Setiap gerakan bibir seolah
mencibir. Dimana coba indahnya dunia ini? Si kecil yang harusnya menjadi pusat
perhatian dan curahan kasih sayang tak ayal sedikit terabaikan karena kemelut
pikiran yang selalu saja berputar ke masalah itu- itu saja.
Tahun ke lima
Bara
di dada kian membara. Langkah terasa berat untuk pulang. Hanya rasa takut yang
berhasil menyeretku pulang. Sedikit cahaya menerobos relung jiwa. Setidaknya
eksistensiku di tempat kerja di akui sesama kolega. Berbekal sregep alias rajin dalam menjalankan
tugas di tempat kerja, membuat namaku sering muncul di Sk-Sk kepanitiaan di
setiap kegiatan. Undangan dari sekolah lain sebagai juri lomba atau sekedar
peserta mulai berdatangan. Rasa percaya diri yang semula sudah habis, musnah tak
bersisa tumbuh kembali meski tidak terlalu subur cukuplah sebagai penghibur.
Saluran
ditelinga mulai terbuka. Jika ada hal yang menyakitkan singgah, aku hanya perlu
memejamkan mata dan membiarkannya mengalir dari telinga kanan ke telinga kiri
kemudian membiarkannya bebas menguap di udara. Meski pun masih ada secuil yang
nyangkut dan larut di dada tidak apa-apalaah. Setidaknya sudah tidak terlalu menghimpit dada.
Keluhan,
ratapan, dan tangisan pada pujaan hati sudah berkurang. Sebenarnya lebih karena
lelah dan tahu reaksi apa yang akan aku terima dari suami membuat aku menarik
semua kata yang sudah siap aku lontarkan padanya. Solusi tidak ada justru malah
menambah deretan pertengkaran nantinya.
Tahun ke enam
Banyak
teman bertanya “ kenapa aku mau tinggal jauh dari suami?” atau “ tidak adakah
rencana kami untuk hidup bersama berbaahagia seperti pasangan lainnya?” Jawaban
apa yang dapat aku berikan. Suami bahkan tidak pernah bercerita rencananya akan
dibawa kemana hubungan kita (kayak laagu aja). Untuk menutupi aura kecewa jawaban
singkat yang aku berikan hanyalah “ biarlah Allah yang merencanakan kebahagiaan
kami yaang sampai sekarang masih kami doakan dan usahakan”.
Berpikir
positif, sabar, ikhlas akan semua takdir yang haarus dijalani seiring
berjalannya waktu ternyata jadi ramuan mujaraab mengeringkan luka. Allah maha
tahu kesulitan umatnya dan tahu seberapa kuatnya pundak kami memikulnya menjadi
penguat hatiku. Keyakinan bahwa suatu saat bahagia itu akan tiba menjadi
tongkat panduan berjalan. Apapun konflik yang terjadi dengan mertua sebisa
mungkin aku redam dengan istighfar. Aku terima apa saja yang aku dengar, aku
rasa, aku lihat tanpa rasa perlawanan apalagi dendam membara. Allah tahu aku
begitu berterimakasih dan menyayangi mereka selayaknyaa orang tua kandungku.
Aku yakin mereka hanya butuh waktu untuk merasakan setiap hembusan cintaku pada
mereka.
Tahun ke tujuh
Dua
tahun sudah suami dipindah tugaskan dikota yaang lebih dekat dengan rumah. Yang
dulunyaa sebulan sekali kami baru bisa bersua, kini sabtu minggu menjadi hari
yang paling aku nantikan. Sedikit demi sedikit ku coba raih tangan ibu mertua.
Hari-hari lebih berbunga. Putri kedua yang kini berusia tiga taahun menambah
suasana ceria.
Kesadaran,
kepasrahan hidup bahwa susah senang sudah sesuai takarannya. Semua akan bernilai
pahala jika kita bijak menghadapinya membuat pagi terasa indah dan malam tidak
terlalu mencekam. Setiap pertemuan dengan suami selalu berasa pertemuan
pertama. Pertengkaran jauh-jauh kami singkirkan. Waktu yang ada benar-benar
kami manfaatkan. Orientasi masa depan perlahan mulai dirumuskan. Terlambat memang
untuk pernikahan kami yang telah
memasuki tahun ke sembilan. Tetapi tidak apa -apa. Saya sudah sangat bersyukur
dan berbahagia.
Sekarang
Masa
LDR telah lewat. Allah benar-benar merencanakan persatuan yang membahagiakan.
Setelah tujuh tahun terpisah, tinggal di pondok mertua indah akhirnya restu
yang kami nantikan turun juga. Mengingat selama jauh dari keluarga suami telah
dua kali jatuh sakit hingga dirawat beberapa lama dirumah sakit beberapa lama
membuat ibu mertua luluh dan terbuka hatinya. Kami diijinkan untuk berkumpul bersama
ditempat tugas suami yang baru.
Tinggal
dirumah mungil nan luas ( karena perabotan yang sangat terbatas), kemana-mana
berkendara roda dua hingga panas terik, hujan, angin tak bisa kami hindari,
namun kami bahagia. Kami tidak apa-apa. Semua ada masanya. Hanya itu yang
menjadi pegangan kami sekeluarga.
LDR
tidak terlalu mengerikan dalam ingatan kami. Justru menjadi pengingat dan
penguat hubungan kami. Dalam doa-doa yang kami panjatkan semoga sakinah
mawaddah wa rahmah senantiasa menaungi keluarga kami hingga kami tua dan
siap menghadapNya nanti.
Jangan
takut hubungan jarak jauh atau LDR. Persiapkan mental jaga komunikasi dan
dekatkan diri pada Ilahi adalah obat yang sangat ampuh dalam menghapus duka
lara hubungan jarak jauh yang harus dijalani.
Berakhir
sudah cerita LDR ini. Semoga membawa pelajaran dan manfaat bagi pembaca
sekalian. Hhhh......legalah sudah. Ganjalan di dada telah musnah. Tetap kuat
sabar dan kuat ya para pelaku LDR hebat. Ingat lah sesulit apapun kita dalam
perjalanan mencapai tujuan kita, tak peduli kita berdesakan di dalam bis yang
pengap,masuk angin karena naik motor, ataupun mual-muntah karena mabuk
perjalaanan pada saatnya kita akan sampai juga di tujuan kita. Duka tawa akan
jadi cerita yang bisa kita dongengkan pada nak cucu kita nantinya dengan
senyuman tentunya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar