Kamis, 20 Oktober 2016

CERITA TANGIS TAWA LONG DISTANCE RELATIONSHIP "LDR"




Tak terpikirkan sekalipun dibenakku untuk menjalani hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR). Namun pepatah yang mengatakan “Men poroses, God disposes  ternyata benar adanya. Setelah dua tahun pernikahan, saat hendak melahirkan anak pertama kami suami memutuskan aku harus melahirkan anak pertama kami dirumah orang tuanya. Resah, pasti. Gelisah , hampir setiap hari. Namun melihat posisi suami tak sanggup rasanya berkeluh kesah dan membuatnya gusar. Bismillah, diawalilah cerita long distance relationship kami.

Tahun pertama LDR
Hidup terpisah dari suami tercinta sungguh berat rasanya. Apalagi kami masih boleh dikatakan pengantin baru ( baru dua tahun hehe). Alhamdulillah mertua sangat baik sekali. Bantuan mereka sangat berarti terutama dalam mengasuh anak pertama kali. Secara saya ini ibu baru yang tidak punya pengalaman sedikitpun. Dalam mengasuh anak benar-benar learning by doing. Saat anak demam dan harus begadang , bapak dan ibu mertua siap menemani. Tak jarang ibu mertua menyuruhku tidur terlebih dahulu kemudian tengah malam membangunkan ku untuk menjaga si kecil.
Adaptasi lingkungan baru bukan hal yang sulit secara aku ini dulu anggota pramuka jadi tinggal dimana saja ayo aja ( gak nyambung ya..:)). Masalah yang paling sering datang adalah kerinduan pada suami yang kadang tak terkendali. Meskipun era teknologi sudah berkembang sangat pesat, namun dikantong kami tak memungkinkan untuk telepon terlalu lama. Hanya berbagi kabar lewat sms dan telepon di penghujung pagi untuk menyiasati pulsa supaya tidak terlalu mahal. Apakah nyaman? Tentu tidak sama sekali. Aku tidak bisa lepas berbicara dengan suami. Meski lewat telepon aku harus berbisik-bisik supaya tidak mengganggu anggota keluarga lain yang masih tidur terlelap. Segala ganjalan dihati juga tidak bisa aku sampaikan semuanya demi menjaga hati dan perasaan suami di sana.

Tahun kedua
Setelah si kecil berusia enam bulan, kebosanan melanda. Tak jarang dengan alasan belanja kebutuhan si kecil, aku mencuri waktu mampir ke warnet (saat itu hape tidak secanggih sekarang. Belum kenal facebook apalagi instagram) hanya untuk browsing buka friendster (hayo yang gak tahu friendster angkat taangan) atau sekedar chatting dengan teman  via yahoo messenger.
Mertua yang ternyata menyadari menantunya ini sedang galau tingkat dewa, menyarankan aku melamar pekerjaan ke beberapa sekolaah sebagai pengajar sesuai dengan jurusan yang aku ambil saat kuliah. Pucuk dicinta ulampun tiba. Tak lama aku diterima disebuah sekolah negeri sebagai guru tidak tetap alias GTT.
Tingkat kegalauan berhasil diturunkan sekian persen. Tetapi biang galaunya masih aja nempel. Apakah itu? Apalagi kalau bukan karena sang pujaan hati. Kian hari kangen yang tersalurkan mengakibatkan baper tiada tara. Suami pulang sebulan sekali dan hanya beberapa jam saja bertatap muka karena jarak rumah dan tempat kerja yang beribu-ribu kilo jauhnya tidak memungkin kami bertemu berlama-lama. Bahagia saat berjumpa sudah tentu, namun tidak bisa lepas menumpahkan rasa rindu karena sebagai wanita aku berpikir harus berbagi waktu dengan keluarganya. Jangan sampai membuat mertua cemburu dan dianggap merebut anak kesayangannya. Karena itulah kami hanya mencuri-curi pandang seperti orang pacaran. Waktu dihabiskannya mengobrol dengan mertua dan bermain dengan anakknya. Tapi aku gak apa-apa ( hahaha)

Tahun ketiga
Prosentase baper meningkat drastis. Konflik dirumah bertambah serasa mengalami depresi parah. Komunikasi dengan mertua sering kali tidak lancar. Entah karena baper atau apa setiap mertua diam seribu bahasa, berton-ton batu serasa menimpa dada dan kepala. Ribuan tanya “ salahku apa?” berseliweran tanpa jawab. Kata- kata halus yaang terlontar sering kali berasa tajam menghujam dada. Pengen ngadu ke suami, takut dikira adu domba. Diam saja aku tak bisa. Dada ini rasanya sesak mau pecah saja. Kalau sudah demikian aku menghujani suami dengan sms penuh drama namun tak bisa aku lepas mengungkap segala gejolak didalam dada. Tetap saja aku harus berhati-hati supaya tidak membuatnya ikut terbawa suasana.

Tahun ke empat
Derita tak kunjung nampak ujungnya (lebay...). Marah dan benci pada suami bertumbuh dan semakin subur tanpa ia ketahui. Dalam hati bertanya-tanya “tidakkah kau rasakan penderitaan istrimu ini?”. Kata-kata yang menenangkan sangat langka keluar dari bibirnya. Tak jarang keluhan justru meluncur darinya menambah perih luka yang telah lebar menganga.
Perasaan sedih, marah, merasa tak berguna, bahkan ingin mati saja semakin dalam tertanam didada. Setiap tindakan rasanya tidak pernah benar dimata orang sekitar. Label-label sebagai wanitaa tak berguna , bukan menantu idaman, manusia tak berguna, lemah, bodoh, persona non grata dan label-label buruk lainnya rasanya tersemat dimana-mana disekujur tubuhku ini. Setiap tatapan rasanyaa tajam menghujam. Setiap gerakan bibir seolah mencibir. Dimana coba indahnya dunia ini? Si kecil yang harusnya menjadi pusat perhatian dan curahan kasih sayang tak ayal sedikit terabaikan karena kemelut pikiran yang selalu saja berputar ke masalah itu- itu saja.

Tahun ke lima
Bara di dada kian membara. Langkah terasa berat untuk pulang. Hanya rasa takut yang berhasil menyeretku pulang. Sedikit cahaya menerobos relung jiwa. Setidaknya eksistensiku di tempat kerja di akui sesama kolega. Berbekal sregep alias rajin dalam menjalankan tugas di tempat kerja, membuat namaku sering muncul di Sk-Sk kepanitiaan di setiap kegiatan. Undangan dari sekolah lain sebagai juri lomba atau sekedar peserta mulai berdatangan. Rasa percaya diri yang semula sudah habis, musnah tak bersisa tumbuh kembali meski tidak terlalu subur cukuplah sebagai penghibur.
Saluran ditelinga mulai terbuka. Jika ada hal yang menyakitkan singgah, aku hanya perlu memejamkan mata dan membiarkannya mengalir dari telinga kanan ke telinga kiri kemudian membiarkannya bebas menguap di udara. Meski pun masih ada secuil yang nyangkut dan larut di dada tidak apa-apalaah. Setidaknya sudah  tidak terlalu menghimpit dada.
Keluhan, ratapan, dan tangisan pada pujaan hati sudah berkurang. Sebenarnya lebih karena lelah dan tahu reaksi apa yang akan aku terima dari suami membuat aku menarik semua kata yang sudah siap aku lontarkan padanya. Solusi tidak ada justru malah menambah deretan pertengkaran nantinya.

Tahun ke enam
Banyak teman bertanya “ kenapa aku mau tinggal jauh dari suami?” atau “ tidak adakah rencana kami untuk hidup bersama berbaahagia seperti pasangan lainnya?” Jawaban apa yang dapat aku berikan. Suami bahkan tidak pernah bercerita rencananya akan dibawa kemana hubungan kita (kayak laagu aja). Untuk menutupi aura kecewa jawaban singkat yang aku berikan hanyalah “ biarlah Allah yang merencanakan kebahagiaan kami yaang sampai sekarang masih kami doakan dan usahakan”.
Berpikir positif, sabar, ikhlas akan semua takdir yang haarus dijalani seiring berjalannya waktu ternyata jadi ramuan mujaraab mengeringkan luka. Allah maha tahu kesulitan umatnya dan tahu seberapa kuatnya pundak kami memikulnya menjadi penguat hatiku. Keyakinan bahwa suatu saat bahagia itu akan tiba menjadi tongkat panduan berjalan. Apapun konflik yang terjadi dengan mertua sebisa mungkin aku redam dengan istighfar. Aku terima apa saja yang aku dengar, aku rasa, aku lihat tanpa rasa perlawanan apalagi dendam membara. Allah tahu aku begitu berterimakasih dan menyayangi mereka selayaknyaa orang tua kandungku. Aku yakin mereka hanya butuh waktu untuk merasakan setiap hembusan cintaku pada mereka.

Tahun ke tujuh
Dua tahun sudah suami dipindah tugaskan dikota yaang lebih dekat dengan rumah. Yang dulunyaa sebulan sekali kami baru bisa bersua, kini sabtu minggu menjadi hari yang paling aku nantikan. Sedikit demi sedikit ku coba raih tangan ibu mertua. Hari-hari lebih berbunga. Putri kedua yang kini berusia tiga taahun menambah suasana ceria.
Kesadaran, kepasrahan hidup bahwa susah senang sudah sesuai takarannya. Semua akan bernilai pahala jika kita bijak menghadapinya membuat pagi terasa indah dan malam tidak terlalu mencekam. Setiap pertemuan dengan suami selalu berasa pertemuan pertama. Pertengkaran jauh-jauh kami singkirkan. Waktu yang ada benar-benar kami manfaatkan. Orientasi masa depan perlahan mulai dirumuskan. Terlambat memang untuk  pernikahan kami yang telah memasuki tahun ke sembilan. Tetapi tidak apa -apa. Saya sudah sangat bersyukur dan berbahagia.

Sekarang
Masa LDR telah lewat. Allah benar-benar merencanakan persatuan yang membahagiakan. Setelah tujuh tahun terpisah, tinggal di pondok mertua indah akhirnya restu yang kami nantikan turun juga. Mengingat selama jauh dari keluarga suami telah dua kali jatuh sakit hingga dirawat beberapa lama dirumah sakit beberapa lama membuat ibu mertua luluh dan terbuka hatinya. Kami diijinkan untuk berkumpul bersama ditempat tugas suami yang baru.
Tinggal dirumah mungil nan luas ( karena perabotan yang sangat terbatas), kemana-mana berkendara roda dua hingga panas terik, hujan, angin tak bisa kami hindari, namun kami bahagia. Kami tidak apa-apa. Semua ada masanya. Hanya itu yang menjadi pegangan kami sekeluarga.
LDR tidak terlalu mengerikan dalam ingatan kami. Justru menjadi pengingat dan penguat hubungan kami. Dalam doa-doa yang kami panjatkan semoga sakinah mawaddah wa rahmah senantiasa menaungi keluarga kami hingga kami tua dan siap menghadapNya nanti.
Jangan takut hubungan jarak jauh atau LDR. Persiapkan mental jaga komunikasi dan dekatkan diri pada Ilahi adalah obat yang sangat ampuh dalam menghapus duka lara hubungan jarak jauh yang harus dijalani.

Berakhir sudah cerita LDR ini. Semoga membawa pelajaran dan manfaat bagi pembaca sekalian. Hhhh......legalah sudah. Ganjalan di dada telah musnah. Tetap kuat sabar dan kuat ya para pelaku LDR hebat. Ingat lah sesulit apapun kita dalam perjalanan mencapai tujuan kita, tak peduli kita berdesakan di dalam bis yang pengap,masuk angin karena naik motor, ataupun mual-muntah karena mabuk perjalaanan pada saatnya kita akan sampai juga di tujuan kita. Duka tawa akan jadi cerita yang bisa kita dongengkan pada nak cucu kita nantinya dengan senyuman tentunya.     

Tidak ada komentar: