Minggu, 21 Mei 2017

Memesona itu tak pantang menyerah

Pertama kali ikut lomba menulis, dan belum menang. Rupanya masih harus banyak belajar lagi.

#Memesona itu berasal dari kata pesona yang dapat dimaknai sebagai daya tarik atau daya pikat. Pesona yang dalam bahasa inggris dikenal sebagai charm, dalam kamus Oxford diartikan sebagai the power or quality of delighting, attracting, or fascinating others. 
Secara umum pesona ini hanya dinilai dari penampilan luar. Seberapa putih dan mulus kulitnya, seberapa berkilau rambutnya, atau sebagus dan semahal apa pakaian dan aksesoris yang disandangnya. Alangkah sempit dan piciknya pandangan tentang bagaimana #memesonaitu.
Mendengar kata pesona, pikir saya melayang kepada seorang wanita yang dekat sekali dengan saya. Pengalaman hidup dan perjuangan beliau sungguh membuat saya ternganga sekaligus menitikkan air mata. Bahkan saya sering mendengar pujian serta keinginan orang lain menjadi seperti beliau. Berjuang seorang diri demi anak-anak terkasih. Jika orang lain begitu terinspirasi, bagaimana saya tidak? Saya memanggil wanita itu ibu.
Ibu saya ini bukan seseorang dengan pendidikan yang sangat tinggi. Pendidikannya di jenjang sekolah menengah pertama harus berakhir sebelum beliau mendapat ijazah karena pernikahan dini. Di usianya yang masih belasan tahun, beliau terpaksa menikahi seorang lelaki yang terpaut sepuluh tahun lebih tua sebagai suaminya. Setelah impian-impiannya kandas, yang tersisa hanyalah harapan dapat hidup berbahagia dengan lelaki yang sama sekali belum dikenalnya itu. Tak berapa lama lahirlah saya dan dua adik perempuan saya. Bahagia baginya masih menjadi asa yang kelak pasti dirasakannya. Dengan keyakinan itu beliau tidak mengeluh bagaimanapun keadaan keluarga kecilnya itu.
Mendapati lelakinya gemar berjudi, beliau tetap sabar. Hingga kenyataan bahwa beliau dipoligami setelah sekian lama ditinggalkan begitu saja tanpa kabar berita apalagi nafkah lahir maupun batin, membuat beliau tidak rela. Dengan penuh keberanian beliau mengajukan gugatan perceraian dan mengesahkan statusnya sebagai seorang janda dengan tiga anak perempuan yang belum dewasa.
Tekatnya untuk tidak larut dalam kesedihan dan bangkit memperjuangkan nasib ketiga anaknya membuatnya rela menitipkan ketiga buah hatinya pada nenek tercinta. Beliau nekat merantau menyeberang pulau demi mencari penghidupan ketiga anaknya. keterampilan yang beliau kuasai hanya satu yaitu memasak. Beliau bekerja di sebuah perkebunan sawit di pedalaman Sulawesi. Begitu ayam berkokok menandai dini hari, beliau bergegas menerobos gelapnya hutan diiringi lolongan anjing di sepanjang jalan untuk menuju dapur yang disediakan untuknya memasak. Lelah dan takut sudah hilang berganti dengan semangat dan kerja keras.
Ketika saya hendak kuliah, cemoohan, sindiran, dan hinaan datang silih berganti. Kata orang-orang itu, kami sungguh tak tahu diri. Alih-alih bekerja membantu mengais rejeki demi sesuap nasi, saya malah ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun beliau pantang mundur dan tidak peduli. Menurut beliau pendidikan sangatlah penting. Harta warisan tidak akan mampu beliau berikan pada kami. Karenanya beliau ingin membekali kami dengan pendidikan yang tinggi sebagai bekal menyongsong masa depan kami.
Kini kami bertiga adalah sarjana. Ijazah dan toga kami adalah bukti ketangguhan dan kerja keras ibu kami. Senyumnya begitu lebar ketika kami mempersembahkan undangan kelulusan kami. beliau tidak pernah mengharap balasan apapun dari kami. Beliau bahkan tidak pernah meminta sedikitpun pada kami. Sedihnya kami belum bisa membahagiakan beliau sebagaimana beliau berusaha keras membahagiakan kami. 
Ibu, setiap tetes keringatmu adalah hidup kami. Setiap desah napas kami berisi lantunan doa-doa kami untukmu. perjuanganmu, ketangguhanmu, dan kerja kerasmu adalah hal yang pasti akan kami teladani. Bagi kami pesonamu tak pernah pudar. Kami akan menceritakan kisah ini pada anak cucu kami. Biarkan mereka terpesona oleh keteguhan hati dan sikap tanpa menyerahmu. Biar mereka tahu makna #memesonaitu.