Senin, 01 Agustus 2016

KU TULIS SURAT INI UNTUK DIK NARTI


Di bawah pohon asam diperempatan  jalan mendadak gaduh nian. Warga berkerumun menghambat jalan. Di sisi-sisi jalan ibu-ibu berbisik-bisik dan bergumam. Para bapak berkumpul tepat dibawah pohon asam. Ada apakah gerangan?

Dua hari lalu aku melihat seorang tua duduk menyandarkan punggung rentanya dipohon asam yang kokoh itu. Tatapan matanya kosong. Kakinya bengkak, kotor entah berapa lama ia berjalan. Iba rasanya aku dekati dia.

Mbah Warso namanya. Berjalan kemana kaki melangkah membawa tubuh rentanya. Karena dia mengira perjalanannya akan mengobati lukanya. Dia ingin menebar penyesalan atas kebodohan dimasa mudanya dijalan yang dilewatinya. Dia menangisi hilangnya keberanian untuk mengungkap isi hatinya pada gadis pujaannya yang berbeda kasta.

Tergerak rasa penasaran atas keramaian itu, aku mendekati kerumunan dan ku dapati sesosok mbah Warso telah terbujur kaku dibawah pohon asam itu. Tangannya mendekap erat sebuah foto kusam dan menggenggam secarik kertas berwarna jingga yang sama lusuhnya dengan foto itu. Mbah warso dibawa ke balai warga. Hendak disemayamkan oleh warga karena tidak jelas sanak saudaranya. Aku melihat foto keramat itu. Sesosok gadis hitam manis berkebaya ungu tersenyum tipis hingga menampakkan lesung pipitnya. Dalam kertas berwarna jingga ku baca
"Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !"
 #bagian akhir itu adalah sebuah puisi karya Rendra.