baiklah, langsung to the point saja ya. semua orang termasuk guru jaman sekarang akrab dengan namanya sosial media. mereka tidak hanya eksis mengajar depan kelas juga bersosialisasi dan mencurahkan isi hati melalui dunia maya. terkait dengan presiden baru pasti ada menteri baru, pejabat baru, sosok-sosok panutan baru yang memikul semua pengharapan seluruh rakyat atas negara dan kehidupan yang lebih baik. Para tokoh-tokoh tersebut tentu saja tidak luput dari sorotan media. Segala tingkah polah, tutur kata, bahkan jumlah peliharaannya pun menjadi hal yang menarik untuk diberitakan. kembali ke .....(lanjutin diri ah, serius amat sih). Ada sesosok wanita hebat luar biasa. hidupnya sukses tiada tara meskipun tidak banyak yang tahu dan mau tahu bagaimana beliau meraih sukses itu. dari berita yang saya baca, beliau itu orang yang gigih, tangguh, dan cerdas. tidak perlu lulus dari universitas dengan gelar yang berderet-deret, beliau ketiban pulung memangku jabatan seorrang menteri.
Ini hubungannya dengan judul apa??? .........sabar ya. makanya baca dulu sampe abis.
ibu menteri yang hebat luar biasa tadi ternyata juga manusia biasa yang mempunyai kesukaan dan ketidaksukaan. mempunyai kebiasaan. yang apesnya kesukaan dan kebiasaan beliau tadi itu agak tidak lazim dengan image seorang pejabat yang sudah terpatri jauh didalam pikiran masyarakat kita. apesnya kebiasaan ibu tadi kok ya di sorot kamera menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. kebiasaan ibu kita ini adalah merokok. nah loh terus gurunya mana.......??
Ini dia ceritanya....................................
pada suatu hari, seorang guru Bimbingan konseling mendapati seorang muridnya merokok (tentu saja dia merokok jauh sebelum bu menteri ketahuan merokok). ketika ditegur (entah bagaimana caranya...) si murid berkilah dengan cerdas dan membuat telinga sang guru merah. Saking prihatin dan dongkol juga sang guru curcol di dindingnya. tanpa harus mengurrangi isinya langsung saya kopiin aja isinya. "
Maaf nyuwun sewu....
Saya hanya ingin berbagi pengalaman....
Sempat ada seorang murid yang ketahuan merokok. Dan parahnya merokok pada jam sekolah. Saya mencoba bertanya "kenapa merokok?"
Dan jawabanya pun sangat mencengangkan....
"Lha wong menterinya aja lho pak merokok dilingkungan istana pak presiden gak marah.... Lha saya merokok disini bapak kok marah...???"
Dan yang kedua ada siswa yang berkelahi. Setelah saya damaikan dan diintrogasi siswa tersebut juga mengajukan argumen....
"Lha poro dewan wae podo gelut to pak nek DPR, gek aku yo melu2 gelut..."
Dan jawabanya pun sangat mencengangkan....
"Lha wong menterinya aja lho pak merokok dilingkungan istana pak presiden gak marah.... Lha saya merokok disini bapak kok marah...???"
Dan yang kedua ada siswa yang berkelahi. Setelah saya damaikan dan diintrogasi siswa tersebut juga mengajukan argumen....
"Lha poro dewan wae podo gelut to pak nek DPR, gek aku yo melu2 gelut..."
*Saya pun jadi bingung.... Apa ini hasil dari revolusi mental?
sang bapak guru yang entah sengaja atau tidak mencantumkan jargon dari tokoh terpilih, ternyata menuai banyak respon. Beberapa merasa prihatin, beberapa sinis bukan main.
disinilah awalnya kenapa seorang guru pasti menitikkan air mata kalau membaca komentar-kmentar yang sebenarnya untuk sang bapak secara personal tapi menorehkan luka yang luarbiasa untuk guru-guru yang menhadapi situasi seperti bapak tadi.
dibawah ini komentarnya
1. konteksnya, anak sekolah kok merokok? berkelahi di sekolah bisa disamakan dengan orang dewasa yg tanggung jawabnya berbeda?
sebenarnya yg ga berubah mentalnya siapa?, para guru atau kita orang yg lebih dewasa yg bisa ngeliat hal itu tapi tetap cuek malah menjatuhkan kesalahan mental itu ke pemerintah?
2. Klo boleh jujur dari cerita tersebut justru malahan guru nya yang gak bisa mendidik siswa.itu klo cerita benar
Semoga hanya karangan saja
3.jauh dari faktanya, saya baca cerita persis di media2 sosial disaat ada berita bahwa seorang menteri dari kalangan profesional yang merokok di lingkungan istana..saya bisa kasih puluhan link yang isinya sama...jadi ini ga lebih dari copas
sebagai seorang pengajar tentunya paham betul ttg bagaimana mengajar dan lucu klo bicara panutan tapi ga bisa mengajarkan para siswa/i memilah hal yang baik dan buruk yang bahkan juga diajarkan sejak dari bangku pra-sekolah...
dan ketika pengajar melihat anak didiknya berprilaku diluar tata krama dan aturan yg ada, kenapa malah kebingungan, mengiyakan mungkin ini hasil "sang panutan" dan menyalahkan revolusi mental tanpa mengkoreksi diri..
dan sudah seharusnya para pengajar bekerja sebagai fasilitator, motivator yang dapat mengubah mental2 siswa/i nya dari awalnya merokok menjadi tidak merokok dan dari berkelahi menjadi bersahabat.
4. Dengan kata lain sang motivator sang pengajar bisa di bilang gagal.
5. Kenapa pendidik selalu gak mau mengakui kegagalan nya?
6. maaf sebelumnya ini bukan maksud menyalahkan tp coba kita lihat realita yang ada.kenakalan siswa/murid sering kali di jadikan alasan untuk pembenaran (padahal realitanya mereka tidak mampu mendidik para siswa/murid itu)
udah segitu aja ya yang dikopi. sudah saya pilihin komentas yang (menurut saya sih menyakitkan).
dari komentar-komentar tersebut kesimpulan yang saya ambil adalah betapa seorang guru tidak dihargai lagi. begitu rendahnya sehingga layak untuk diperolok-olok, disiarkan kegagalannya. Orang luar mungkin (karena saya belum pernah survey) kurang paham jika guru-guru kita itu banyak yang kebingungan. bingung karena beban pekerjaan diluar mengajar yang seringkali menjadikan prioritas menjaga kualitas mengajar menurun. belum lagi karena kurikulum yang selalu berganti-ganti dan lain sebagainya. kok tahu kalau ada guru yang menitikkan airmata?? saya dulu juga seorang guru, makanya saya terpanggil untuk menulis disini karena saya sempat merasa perih membacanya. begitupun komen dari sohib si bapak guru juga menyatakan perih banget komentar di atas.
kesimpulan lainnya adalah rupanya masyarakat (entah apap cuman komentator diatas saja, saya harap anda bukan salah satunya) belum memahami pendidikan terutama pendidikan karakter tidak melulu tanggung jawab seorang guru. masyrakarat, orangtua, sistem pendidikan (disini pemerintah dong), juga pengaruh-pengaruh teknologi yang tidak terbendung juga ikut andil dalam pembentukan karakter anak dan keberhasilan pendidikan tentunya.
Ilmu ibarat cahaya kata guru saya SMA yang selalu saya ingat. dan hati dan pikiran kita adalah kaca. hanya kaca yang bersih dan mengkilap yang dapat ditembus oleh cahaya. kalau kacanya berdebu tebal bahkan sudah dicat berwarna hitam, maka sampai kapanpun ilmu tidak akan bisa masuk.
jika ada guru yang gagal, yang tidak sempurna (menurut kacamata orang tertentu). ya tentu harus maklum kemudian ditegur melalui mekanisme yang benar dan dengan cara yang benar pula. sebagaimana ibu menteri guru-guru kita juga masih bersttatus sebagi manusia biasa (jadi ingat judul lagunya yovie and nuno).
terakhir....
mari bersama-sama mengawasi anak kita, adik kita, saudara kita. jangan kita bebankan kerusakan moral mereka hanya dibahu bapak ibu guru kita. jangan-jangan (jangan sampe deh) kita secara tidaklangsung ikut menjadi motor kerusakan mereka. mari kita batu bapk ibu guru dan pemerintah kita mencetak generasi penerus bangsa yng beriman dan berakhlak mulia. sehingga jiwa dan pikiran mereka sebening kaca yang siap ditembus cahaya ilmu sebanyak-banyaknya. Amin.
dan mari berdoa untuk bapak ibu guru diseluruh Indonesia semoga senantiasa kuat dan sabar membimbing siswa-siswinya. diberikan keistiqomahan dan dijauhkan dari semua sifat buruk.
GURUKU.....I LOVE YOU
catatan: punten kalo ada yg merasa tersinggung.